-->

Notification

×

Iklan

Tag Terpopuler

Adit Barli: Bandung Sudah Terlalu Banyak Narasi, Saatnya Berkarya Nyata

Senin, 17 Agustus 2026 | Agustus 17, 2026 WIB Last Updated 2026-08-17T18:56:22Z




BANDUNG, (suaramudanews.com) , – Langit Cikapayang, Jalan Dago kembali memerah.untuk tahun kelima berturut-turut tradisi pembentangan bendera raksasa digelar dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.(17/08/2026)


Bagi komunitas penggagas, ini bukan sekadar seremoni. Ini adalah pesan.


“Ini tradisi. 5 tahun berturut-turut kita lakukan. Tujuannya satu: membangun kesadaran tentang pentingnya arti persaudaraan di Kota Bandung,” tegas Adit Barli.


Di tengah hiruk pikuk acara, Adit barli menegaskan identitas Bandung sebagai kota yang menjunjung toleransi.


“Kita bilang bahwa Kota Bandung itu kota yang toleran. Dan itu harus kita jaga,” katanya.


Bukti nyata terlihat di lapangan. Anak muda, seniman, pegiat sosial, dan berbagai komunitas turun bersama menggotong bendera sepanjang puluhan meter.


“Ke depan ini akan kita estafetkan. Tahun depan kelompok mana lagi. Biar setiap kelompok bisa menunjukkan potensinya. Dari situ kita bangun inspirasi. Seperti apa sih kehidupan yang kita mau,” ujarnya.




Hadirnya Wakil Wali Kota Bandung, H. Erwin di acara ini dinilai Aditya sebagai bentuk awal keterlibatan pemerintah terhadap kegiatan komunitas.


“Ini pembuktian bahwa pemerintah mulai hadir di kegiatan-kegiatan komunitas. Yang kami lakukan ini adalah kegiatan kesadaran,” ucapnya.


Namun ia juga menitipkan PR besar untuk Pemkot Bandung. 


“Harapan saya, pemerintah harus lebih mengaktifkan lagi. Cari dan dorong potensi-potensi di masyarakat. Banyak sebetulnya,” pintanya.


Khusus sektor seni dan budaya, Adit barli memberikan catatan kritis. 


“Kalau bicara seni budaya, jangan cuma soal kesenian. Budaya itu way of life. Cara hidup. Dinas Kebudayaan harus bikin program yang membangun kesadaran ‘silih asah, silih asih, silih asuh’,” tegasnya.


Ia juga menyoroti dunia pendidikan. 


“Jangan cuma pendidikan. Harus ada ‘seni pendidikan’. Dan tingkatkan juga kualifikasi guru-guru. Biar bisa mewujudkan Panca Waluya yang diharapkan KDM,” lanjutnya.


Terkait kendala pelaksanaan di lapangan, Aditya menanggapinya dengan ringan.


“Banyak. Tapi buat kami, kendala itu latihan. Latihan biar kita makin kreatif,” katanya singkat.


Ia menutup dengan pesan yang menohok.


“Bandung sudah terlalu banyak narasi. Sekarang ayo kita melangkah. Berkarya nyata. Jadikan diri kita, pribadi kita, sebagai jalan alternatif untuk beribadah dan mewujudkan apa yang kita harapkan bersama,” pungkasnya.


Pengibaran bendera raksasa di Cikapayang ini menjadi bukti bahwa semangat kemerdekaan di Bandung tidak pernah padam. Ia hidup di jalanan, di komunitas, dan di tangan anak-anak mudanya.(Renie)