KOTA BARU PARAHYANGAN, (Suaramudanews.com) , Di tengah kecerdasan buatan yang mampu berpikir, menggambar, menulis, hingga meniru percakapan manusia dalam hitungan detik, kelompok Arutala justru mengajak orang tua untuk kembali pada pertanyaan paling mendasar: anak seperti apa yang sedang kita persiapkan?
Pertanyaan itu menjadi ruh seminar Smart Parenting, Strong Culture: Mendidik Anak di Era Artificial Intelligence yang digelar di Silokarupa Bale Pare, Kota Baru Parahyangan.(23/9/2026)
Tema ini terasa semakin mendesak, saat AI berkembang jauh lebih cepat daripada kemampuan orang dewasa memahami perubahan psikologis dan kultural yang menyertainya. Kegelisahan itulah yang terlihat dari antusiasnya kehadiran orang tua dan guru dalam forum tersebut.
Seminar menghadirkan tiga narasumber lintas disiplin. Pakar teknologi informasi Ir. Budi Rahardjo M.Sc., Ph.D. sebagai keynote speech memaparkan materi Artificial Intelligence dan Masa Depan Pendidikan Keluarga. Hadir pula praktisi seni dan budaya Adit Barli membawakan materi Membangun Rasa, Lengkapi Jiwa, serta aktris dan pegiat parenting Shahnaz Haque dengan materi Orang Tua sebagai Role Model di Era Digital & AI.
Persoalan yang dibahas bukan sekadar bagaimana anak menggunakan AI, melainkan jebakan dalam pola pendidikan itu sendiri.
Adit Barli mengingatkan bahwa pendidikan anak kerap berjalan seperti kacamata kuda. Anak diarahkan menuju satu jawaban yang dianggap benar, sementara keberagaman cara melihat justru dipersempit.
Ia mencontohkan pengalaman sederhana dalam menggambar. Saat diminta menggambar pemandangan, hasilnya hampir selalu serupa: dua gunung, matahari, jalan membentang, sawah di kiri-kanan, lalu sebuah rumah.
“Masalahnya bukan pada dua gunung atau matahari. Namun ketika imajinasi anak seperti harus meminta izin kepada pola yang sudah ditentukan orang dewasa. Padahal dunia anak jauh lebih luas daripada satu bentuk pemandangan,” ujar Adit.
Di sinilah seni pendidikan memperoleh makna yang lebih dalam. Menggambar bukan semata-mata aktivitas menghasilkan gambar, melainkan ruang untuk mengenali apa yang ada di dalam diri anak. Seni diposisikan sebagai bahasa jiwa: sesuatu yang belum mampu diucapkan melalui kata, dapat menemukan bentuk melalui garis dan warna.
Karena itu, persoalan pendidikan bukan tentang bagaimana membuat anak pintar. Melainkan bagaimana membantu anak mengenali emosi, mengendalikan dorongan ego, membangun konsentrasi, dan kemudian mengembangkan logika dasarnya.
Ketika seorang anak diajak membayangkan bagaimana bentuk seekor kuda, misalnya, orang tua tidak seharusnya memaksa anak menghasilkan gambar kuda sesuai standar orang dewasa. Begitu pun ketika menggambar manusia. Setiap anak mungkin menghasilkan bentuk yang berbeda. Perbedaan itulah yang seharusnya dihargai sebagai bagian dari karakter dan cara berpikirnya.
Di titik ini, Adit menegaskan parenting tidak boleh berhenti sebagai teknik mengatur anak. Ia harus menjadi praktik kebudayaan.
“Orang tua bukan sekadar pengawas prestasi, melainkan lingkungan pertama tempat seorang anak membangun kepercayaan terhadap dirinya sendiri. Kepercayaan diri tidak lahir dari pujian kosong. Ia tumbuh saat anak merasa aman untuk mencoba, salah, bertanya, dan menggambar dengan caranya sendiri,” katanya.
Dalam sesi tersebut, orang tua bahkan diajak untuk tidak buru-buru menilai gambar. Melainkan memberi ruang kepada anak untuk menjelaskan proses dan makna di balik karyanya.
Inilah paradoks besar era AI. Mesin semakin mudah menghasilkan sesuatu yang tampak sempurna. Sementara manusia membutuhkan ruang untuk menjadi tidak sempurna. AI dapat membuat gambar dalam hitungan detik. Tetapi AI tidak boleh membuat kita kehilangan kesabaran untuk menunggu seorang anak menemukan garis pertamanya.
Jadi, smart parenting bukan cuma soal mahir memakai teknologi, tapi soal seberapa peka orang tua memahami anaknya.
Sebab ketika teknologi semakin pintar, ukuran kemajuan pendidikan bukanlah seberapa cepat anak menghasilkan sesuatu. Ukurannya adalah apakah ia masih mampu merasakan, berpikir, berimajinasi, menghargai perbedaan, dan memiliki keberanian untuk menjadi dirinya sendiri.
Di situlah budaya menemukan tempatnya. Seni pendidikan sesuai dengan hakikatnya bukan mencetak manusia sesuai cetakan zaman. Melainkan mengawal serta menemani manusia kecil agar kelak mampu menjalankan kehidupannya hari ini, esok, dan lusanya.(Renie)



