CIMAHI, (Suaramudanews.com) – Wali Kota Cimahi, Letkol (Purn) Ngatiyana, S.A.P., menegaskan bahwa inovasi pelayanan publik dan tata kelola pemerintahan bukanlah sekadar tren, melainkan pilar utama dalam menghadirkan pelayanan prima yang responsif, transparan, dan efisien bagi masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Ngatiyana dalam sambutan puncak penganugerahan Cimahi Motekar Awards (CHIMA) Tahun 2026 yang digelar di Mal Pelayanan Publik (MPP) Kota Cimahi, Kamis (8/10/2026).
Komitmen inovasi tersebut telah membuahkan hasil nyata di tingkat nasional. Pada ajang Innovative Government Award (IGA) Tahun 2025, Kota Cimahi berhasil mempertahankan predikat "Kota Sangat Inovatif" dan melesat menempati peringkat ke-12 nasional. Prestasi ini menjadi modal kuat untuk terus berlari di tengah keterbatasan fiskal daerah.
Wali Kota mengungkapkan, meskipun mengalami kendala keterbatasan fiskal, ikhtiar dan kinerja inovasi Kota Cimahi terus menunjukkan tren positif yang luar biasa. Pada tahun 2026 ini, tercatat sebanyak 305 inovasi telah terkumpul di Kota Cimahi, dan dari jumlah tersebut sebanyak 207 inovasi telah dikirimkan ke Kementerian Dalam Negeri untuk diikutsertakan dalam penilaian IGA 2026.
"Terjadi peningkatan jumlah inovasi yang lolos dari semula 171 inovasi pada tahun 2025 menjadi 207 inovasi di tahun 2026 atau meningkat sebesar 21 persen. Begitu pula dengan nilai Indeks Kematangan Inovasi yang naik dari 84,5 menjadi 91,16 atau meningkat 7,9 persen. Ini adalah lompatan yang luar biasa!" tegas Ngatiyana.
Dengan modal kematangan tersebut, Ngatiyana optimis target Kota Cimahi untuk menembus 10 besar nasional di antara kota-kota lainnya pada IGA 2026 dapat diwujudkan bersama.
Melalui kompetisi CHIMA 2026 yang mengusung 6 kategori kompetisi, mulai dari SKPD, UPTD/Puskesmas/BLUD, Guru SD/SMP, hingga kategori baru seperti Inovasi Janji Politik, ASN Laki-laki Terinovatif, dan ASN Perempuan Terinovatif, diharapkan lahir inovasi yang semakin berdampak.
Namun, Wali Kota menegaskan bahwa penganugerahan ini juga harus menjadi momentum evaluasi bersama. Bapperida mencatat beberapa poin penting yang harus diperbaiki ke depan.
Pertama, penguatan aspek administrasi dan regulasi. Kelemahan saat ini mayoritas inovasi masih bertumpu pada SK Kepala SKPD dan SK Wali Kota, sementara daerah lain yang menjadi saingan 10 besar nasional sudah bergerak maju menggunakan payung hukum Peraturan Daerah (Perda) Inovasi.
"Kedua, pooling inovasi di Cimahi sangat besar, tetapi masih didominasi oleh penyelesaian tugas teknis pejabat. Ke depan, inovasi harus ditingkatkan ke level program dan strategi agar dampaknya dirasakan langsung pada kesejahteraan publik dan menyukseskan 17 Janji Politik Wali Kota," ujar Ngatiyana.
"Ketiga, penyelarasan perencanaan (Cascading), di mana inovasi harus direncanakan secara sadar sejak awal penyusunan KAK dan RKA, serta terintegrasi penuh dengan pencapaian IKU Eselon II," tambahnya.
Wali Kota menekankan bahwa pada tahun 2026 penekanan penilaian inovasi untuk mendukung IKU adalah karena inovasi yang tidak terhubung dengan cascading cenderung bersifat parsial dan hanya menyelesaikan masalah teknis jangka pendek.
"Ketika inovasi dikaitkan dengan program dan kebijakan makro, orientasinya akan bergeser menjadi solusi strategis daerah, mengubah paradigma inovasi dari yang semula dianggap sebagai 'beban kerja tambahan' menjadi 'cara kerja baru' yang inheren," katanya.
Pada momen tersebut, Wali Kota memberikan penghormatan khusus. Salah satu finalis terbaik pada kategori ASN Perempuan Terinovatif dari UPTD Puskesmas Leuwigajah, yaitu dr. Ruth Risnianthy, telah berpulang ke Rahmatullah pada 23 Februari 2026 lalu.
"Atas nama Pemerintah Kota Cimahi, diberikan penganugerahan khusus In Memoriam sebagai bentuk penghormatan tertinggi atas jasa, pengabdian, dan keteladanan beliau di bidang inovasi daerah," tandas Ngatiyana.(Renie)

